Klik Judul 1X

Jumat, 08 Juli 2011

Ciri-ciri Historiografi Tradisional



Ciri-ciri Historiografi Tradisional adalah :
·                Adanya suatu visi historiografi tradisional yaitu raja sentris
Setiap tulisan pujangga  selalu mengangkat hal-hal yang berhubungan dengan raja. (raja biasanya dianggap sebagai titisan dewa)
·               Dari segi misi, unsur-unsur faktual masih ada, disampaikan secara halus.
·                Penyajian dari historiografi tradisional ini lebih menggunakan simbol. Cerita dibuat dengan suatu simbol-simbol saja.
·                Sumber-sumber sejarah tradisional yang mendasari historiografi tradisional cenderung mengabaikan unsur-unsur fakta karena terlalu dipengaruhi oleh sistem kepercayaan yang dimiliki masyarakat[1].
·                Adanya kepercayaan tentang perbuatan magis yang dilakukan tokoh-tokoh tertentu[2].

Ciri-ciri Historiografi Tradisional di Indonesia memiliki persamaan dan perbedaan dengan Ciri-ciri Historiografi Tradisional di Asia Tenggara.

Ciri-ciri yang sama :
  1. Kebanyakan karya-karya tersebut kuat dalam hal geneologi, tetapi lemah dalam hal kronologi dan detil-detil biografis.
  2. Tekanannya adalah pada gaya bercerita, bahan-bahan anekdot, dan penggunaan sejarah sebagai alat pengajaran agama.
  3. Bila karya-karya tersebut bersifat sekuler maka nampak adanya persamaan dalam hal perhatian pada kingship (konsep mengenai raja) serta tekanan diletakkan pada kontinuitas dan loyalitas yang ortodoks.
  4. Pertimbangan-pertimbangan kosmologis dan astrologis cenderung untuk menyampingkan keterangan-keterangan mengenai sebab-akibat dan ide kemajuan (progress)[3].

Perbedaan-perbedaan yang pokok :

  1. Agama telah memisahkan agama para sejarawan Indo-Islam dan konteks sosio-ekonomi agama Hindu. Agama juga memisahkan orang-orang Muangthai dan Kamboja dari tradisi historiografi Asia Timur dalam bentuk Vietnamnya. Agama juga memisahkan dunia Melayu-Jawa dari orang Muangthai dan Birma di satu pihak dan orang Filipina di lain pihak.
  2. Persaingan nasional mempengaruhi karya mengenai bangsa-bangsa yang bertetangga, umpamanya karya-karya orang Birma dan Muangthai.
  3. Perbedaan bahasa di Asia Tenggara sebelum menurunnya bahasa Pali sangat rumit, kebanyakan karya-karya itu tidak dapat dibaca di luar batas negara-negara itu sendiri.
  4. Kebijaksanaan raja-raja mengenai penulisan sejarah cukup beragam: karya-karya Islam dan Melayu diedarkan di kalangan umum, sedangkan karya-karya orang Muangthai, Birma serta Vietnam hanya untuk kepentingan pihak resmi[4].



DAFTAR PUSTAKA


Danar Widiyanta., “Diklat Perkembangan Historiografi”. Yogyakarta : 2002
I Gede Widja., “Sejarah lokal suatu Persepektif dalam Pengajaran Sejarah”. Jakarta : Depdikbud 1989


[1] I Gede Widja., “Sejarah lokal suatu Persepektif dalam Pengajaran Sejarah”. Jakarta : Depdikbud 1989. hal 68

[2] Ibid. hal. 69
[3] Danar Widiyanta., “Diklat Perkembangan Historiografi”. Yogyakarta : 2002 hal.

[4] Ibid., hal.

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar