Klik Judul 1X

Sabtu, 09 Juli 2011

KEHIDUPAN EKONOMI MASYARAKAT ASIA TENGGARA


Masyarakat Asia Tenggara dalam kehidupan ekonominya bertumpu pada pertanian dan juga perdagangan yang sudah lama berkembang di kawasan ini. Asia Tenggara pada kurun niaganya merupakan daerah yang jarang penduduknya. Sebagian besar penduduknya terpencar dalam kantong-kantong persawahan yang intensif dan di kota-kota pelabuhan niaga yang relatif penduduknya lebih besar.

A.       Bidang Pertanian.
Penyesuaian dengan lingkungan fisik yang sama, menyebabkan dalam jenis makanan juga tidak jauh berbeda di Asia Tengara. Bahan makanan dan hasil bumi paling pokok adalah beras. Predikat lumbung padi Asia Tengara diberikan kepada Birma dan Siam. Sementara Kamboja disebut sebagai pulau basah yang menginggatkan kita pada masa kejayaan Kerajaan Angkor, para penguasa menjadikan Angkor sebagai suatu negara yang berprototipe hidrolis daerah pertanian. Sedangkan Vietnam diibaratkan “sebuah pikulan padi”, Annam merupakan tongkat yang kedua ujungnya bergantung dua ikat padi yaitu Tongkin dan Cochin Cina.
Ada tiga jenis cara menanam padi di Asia Tenggara, sarnpai abad ke enam belas masih dapat kita jumpai yaitu :
1.         Pertanian berpindah pada lereng-lereng rendah.
                 Pertanian berpindah dilakukan dengan cara membersihkan dan membakar hutan, terus berputar setiap tahun. Cocok bagi sebagian besar daerah lereng yang cukup curah hujannya. Pertanian berpindah sudah ditunjukkan sebagai suatu cara untuk menghasilkan padi yang kerjanya paling ringan namun perlu banyak orang dan sulit untuk mampu memberikan surplus produksi tahunan bagi keluarga petani. Jenis tanaman lainnya yang ditanam antara lain ubi-ubian, ketela, jemawut, jagung dan sebagainya. Kekurangan cara pertanian berpindah ini , adalah adanya unsur hara yang banyak larut terbawa hujan dalam satu atau dua musim, sehingga mereka hams merambah hutan berikutnya.
2.         Menyebar benih pada ladang yang tergenang.
                 Cara ini lebih menguntungkan karena menghasilkan beras yang lebih banyak dibanding ladang berpindah. Cara ini berkembang di Kamboja, Birma, Semenanjung Malaya dan Vietnam. Menurut hasil penelitian di daratan Asia Tenggara paling baik ditanami padi basah, daerahnya meliputi sepanjang hulu sungai Merah, Mekong, Menarn, Saiwen, Irawadi dan daerah tepi laut Cina. Di Birma terdapat tanah subur seluas 34.000 kilometer persegi yang berada di sekitar muara sungai Irawadi. Tanah ini merupakan timbunan lumpur yang telah terbentuk ribuan tahun silam.

3.         Menanam benih di sawah.
                 Menanam benih di sawah yaitu dengan menyemaikan benih di sawah yang tingkat masukan air diawasi dengan seksarna. Organisasi pengairan bekerja untuk menampung air hujan, membuat tanggul penahan air dan mengatur pembagian air ke sawah-sawah. Cara ini menghasilkan padi tertinggi di banding cara lainnya. Teknik persawahan ini memungkinkan petani menunai dua kali setahun jika persediaan airnya cukup. Sistern irigasi segera diikuti oleh penduduk di daerah tropis dengan mengalirkan rawa-rawa, menaikkan air ke bukit-bukit seperti apa yang dikerjakan orang-orang Mon di daerah kering Kyaukse yang dapat panen tiga kali setahun pada abad kedua belas[1]. Mereka sebagai pelopor pengerjaan sawah basah sebelum bangsa Thai datang. Pekerjaan berat sernacam itu dilakukan pula oleh bangsa Shan pada masa berikutnya. Pertanian di sawah yang basah juga telah dikenal penduduk Tonkin pada awal periode sejarah. Namun mereka kemudian terpaksa meninggalkan tanah pertaniannya ketika bangsa Vietnam datang. Daerah delta sungai Merah sebagai tempat tinggal penduduk telah melahirkan keluarga-keluarga yang rnempunyai keahlihan rnengolah tanah persawahan dan menjadi panutan petani-petani selanjutnya. Kemudian pengetahuan tentang pertanian ini di sebarkan ke selatan, mungkin sekali sebagai akibat desakan bangsa Vietnam itu. Jawa memiliki penduduk dan tanah yang subur cocok untuk melakukan jenis bercocok tanam di sawah. Jawa merupakan pemasok terbesar beras untuk Malaka.

Cara pertanian ini banyak ditentukan oleh keadaan fisik masing-masing daerah, baru setelah itu oleh adanya tekanan kebutuhan akibat bertambahnya jumlah penduduk. Peralatan pertanian sangatlah sederhana dan beragam, dan sernuanya rnenunjukkan bahwa tidak digunakan bahan langka seperti besi. Pertanian berpindah memerlukan parang untuk rnerambah hutan, pacul atau cangkul dan sebuah linggis. Di sebagian besar daerah Asia Tenggara wanita rnenuai padi dengan memakai ani-ani. Ani-ani memiliki kelebihan yang sangat praktis, khususnya untuk padi di daerah perbukitan. Pertani dapat memotong batang-batang padi yang masak saja. Untuk persawahan, peralatan pentingnya adalah luku kayu yang ujungnya dan logam dan garu dan kayu. Keduanva ditarik oleh kerbau dan sapi. Di seluruh Asia tenggara, kerbau yang lamban namun dapat diandalkan merupakan hewan penarik, terutama digunakan untuk membajak meskipun ada juga yang digunakan untuk rnengangkut hasil bumi.
Dalam komunitas masyarakat Asia Tenggara yang paling awal, tanah merupakan hak milik bersama. Mulai dari penggarapan tanah sampai dengan memetik hasilnya dikerjakan secara komunal dan swadaya dalam unit-unit sosial. Kerja gotong-royong berlaku untuk hal-hal lain seperti pembuatan rumah, irigasi dan berbagai kerja lainnya. Sistem kepemilikan tanah berubah menjadi perorangan terjadi secara merata di Asia Tenggara sehubungan dengan munculnya kerajaan-kerajaan.
Resminya Raja adalah pemilik seluruh tanah namun sebenarnya hak milik dan hak pakai ada pada petani. Hak pakai ditentukan oleb adat dan kebiasaan yang sulit berubah.

B.       Bidang Perdagangan.
Di Asia Tenggara bidang perdagangan sudah dimulai paling lambat pada abad 3 SM. Mula-mula perdagangan berkenibang di daerah Pegu, Ayuthya dan sebagainya yang masih bersifat lokal. Pusat pemerintahan untuk kerajaan dagang biasanya didirikan di tepi sungai dengan rnenggunakan perahu sebagai alat transportasi utamanya. Ibu kota merupakan pusat kegiatan politik, sekaligus menjadi pusat penumpukkan hasil produksi dengan raja sebagai peran sentralnya. Kemudian berkembang menjadi pusat perdagangan, tempat bertemunya saudagar-saudagar dunia dengan pemerintahan setempat.
Melalui bukti-bukti historis dapat diketahui adanya hubungan dagang antara bangsa-bangsa Asia Tenggara dan bangsa-bangsa lainnya. Para pedagang bersama-sarna dengan penyiar-penyiar agama berlayar ke timur dari teluk Benggala menuju Birma hilir. Rute perdagangan melalui darat yang dikenal dengan “Jalan Sutera” sudah dipergunakan sejak tahun 128 SM oleh para kafilah dari Asia bagian Barat ke Cina atau sebaliknya. Kemungkinan besar bangsa-bangsa Asia Tengara ambil bagian dalarn perdagangan ini, karena “jalan sutera” itu melewati Birma Utara[2].
Pemerintahan Cina pada tahun 116 SM memprakarsai membuka jalan laut karena jalan darat tidak lagi aman akibat gangguan para perampok. Kekuatan angkatan laut menjadi sangat penting untuk mengamankan jalan perdagangan lewat laut ini. Angkatan laut yang dibuat oleh Fan Sih man ketika memegang kekuasaan Funan, mampu mendominasi lautan dari pantai malaya sampai teluk Cam Anh di dekat Campa. Pada saat itu bandar utama Funan, yaitu Oc Eo, memegang rute kunci perhubungan antara india dan Cina. Runtuhnya kerajaan Funan sedikit banyak rnepengaruhi lesunva aktifitas dagang di Asia Tenggara, baru pada abad ke 7-9 perdagangan Asia Tenggara digalakkan kembali oleh pemerintahan dinasti tang di Cina, namun pusat dagang bergeser dan Kamboja ke Selat Malaka dan Sriwijaya.
Abad ke 14 sampai abad ke 17 merupakan abad yang didominasi oleh pcrdagangan. Hal tersebut didasarkan pada dna hal yaitu:

  1. Ledakan pasar pada abad keenam belas yang terus menerus berpengaruh besar terhadap Eropa dan Laut Tengah sebelah tirnur, juga terhadap Cina, Jepang dan juga India, merupakan saat ketika Asia Tenggara memainkan peranan yang sangat penting dalam perdagangan. Barang perdagangan yang sangat penting pada waktu itu adalah lada cengkeh dan pala yang berasal dan Asia Tenggara.
  2. Selama periode ini para saudagar, penguasa kota dan negara menempati bagian sentral dalam perdagangan yang berasal dari dan melalui wilayah mereka. Pusat-pusat perdagangan pada waktu itu berada di Asia Tenggara seperti Pegu, Ayuthya, Pnompenh, Malaka, Patani, Brunai, Pasai, Aceh, Banten, Jepara, Gresik dan Makasar.

Abad ke-15 dan abad ke-16 di Asia Tenggara terjadi interaksi intensif dengan ekonorni global. lnteraksi intensif dalam perdagangan ditandai dengan beberapa hal yaitu :
  1. Integrasi dalarn dalam perdagangan global.
Perdagangan selalu merupakan hal yang vital bagi Asia Tenggara. Asia Tenggara dapat dijangkau lewat lalu lintas laut, dan menguasai jalur maritim antara Cina dan pusat-pusat pernukiman penduduk seperti India, Timur Tengah dan Eropa. Produknya yang berupa cengkeh, pala, kayu cendana, kamfer dan pernis mendapatkan pasaran sejak zaman Romawi dan Han. Dari semua pasar untuk hasil bumi Asia Tenggara, Eropa memperluas permintaannya paling cepat pada akhir abad keenam belas dan awal abad ketujuhbelas, dengan mengambil bagian yang makin besar untuk rempah-rempah Maluku dan Lada Asia Tenggara.
  1. Komersialisasi produksi dan konsumsi.
Asia Tenggara secara keseluruhan adalah pengekspor bahan mentah. dan pengimpor barang pabrikan. Dinamika persaingan pengusahaan tanaman ekspor tampak jelas dan terus berpindah-pindahnya pusat produksi.

  1. Pertumbuhan kota-kota.
Zaman perdagangan adalah masa pertumbuhan kota yang berkelanjutan. Abad kelimabelas menandai pergeseran kekuasaan yang menentukan ke arah kota-kota perdagangan dengan mundurnya ibukota lama yang lebih bergantung pada tenaga kerja dari hasil pertanian. Kota-kota seperti Ayutthaya, kota bandar di Pegu, kota Thang-Long (Hanoi sekarang) di Vietnam, kota-kota pantai seperti Dernak, Jepara, Tuban gresik, Surabaya merupakan pusat-pusat kegiatan perdagangan di Asia Tenggara.
  1. Spesialisasi dalam fungsi-fungsi ekonomi.
Di dalam kota-kota terdapat komunitas yang sepenuhnya menggantungkan diri pada perdagangan dan kegiatan dagang, pada lembaga-lembaga seperti transaksi yang berhubungan dengan kapal, bagi hasil dan pinjaman dengan bunga terbentuk dengan mantap
  1. Monetisasi dalam perdagangan dan perpajakan.
Mata uang tembaga Cina, dan mata uang setempat yang mengikuti modelnya, merupakan peletak dasar untuk komersialisasi yang makin meningkat di kawasan Asia Tenggara setelah tahun 1400.
  1. Perkembangan Teknologi Transportasi dan militer.
Teknologi transportasi semakin berkembang, ribuan kapal mengangkut muatan apa saja dari 4-40 ton mengarungi perairan Asia Tenggara. Kapal besar sangat besar manfaatnya dalam pelayaran dagang yang bersifat damai, karena kapal ini tidak dapat berlayar cepat serta tidak dapat menghindar bila terjadi peperangan. Pembuatan peralatan militer untuk mendukung perdagangan diperkenalkan oleh Cina dan sernakin berkembang di Asia Tenggara masa perdagangan.


  1. Perturnbuhan negara Absolut.
Para penguasa yang kuat di kurun niaga nampak absolut dalam teori dan parktek.

Pada pertengahan abad ke-17, di Asia Tenggara terjadi perubahan yaitu adanya pengunduran diri dari ekonomi global. Hal ini dikarenakan beberapa hal :
  1. Tiadanya perlindungan tegas terhadap milik pribadi.
  2. Ketegangan antara perkembangan pasar dengan kekuasaan raja.
  3. Penyelesaian jangka pendek telah menghambat pertumbuhan ekonomi.

Pertengahan abad ke-17 merupakan awal mula munculnya kemiskinan di Asia
Tenggara. Hal ini disebabkan oleh faktor internal dan faktor eksternal.
1.              Faktor internal.
a.    Tindakan sewenang-wenang penguasa.
Tindakan sewenang-wenang ini tidak memungkinkan munculnya suatu kelas menengah yang kaya. Misalnya:
·           Di Champa: Raja menyita harta rakyat dan menjadikannya budak.
·           Di kamboja : Harta adalah milik Raja.
·           Tongkin : Rakyat tidak boleh kaya.
·           Chochin Cina : Rakyat ingin terlihat lebih miskin.
·           Siam : Tanah selalu menjadi milik raja.
·           Burma : orang kaya ditangkap.
·           Mangindanau : Harta diambil penguasa.
·           Aceh : Raja tidak memperkenankan rakyatnya kuat dan kaya.
b.    Hubungan yang erat antara kekuasaan dan perdagangan.
·           Pedagang cenderung menjadi pemegang kekuasaan, baik dengan bersekutu dengan kekuasaan yang telah ada maupun membentuk kekuasaan baru.
·           Tidak terdapatnya kelas pedagang dengan ethosnya sendiri yang berbeda dengan istana, adalah hambatan ke arah perkembangan kapitalisme.
2.              Faktor Eksternal.
a.         Perjumpaan dengan Barat (senjata, benteng, sekutu).
b.         Depresi perdagangan global.
c.         Munculnya Negera Agraris
d.         Perubahan iklim (pendinginan permukaan burni)
e.         Menarik diri dari ekonomi dunia.
f.           Cina mengambil alih profesi tukang dan pelaku perdagangan lokal.


C.       Bidang Industri.
Industri kurang berkembang di Asia Tenggara, karena kebanyakan barang dagangan adalah hasil pertanian. Industri yang mula-mula adalah industri rumah tangga yang dikerjakan guna memenuhi kebutuhan sehari-hari dalam lingkup yang sangat terbatas. Pekerjaan tangan ini biasanya didasarkan atas ikatan keluarga atau dusun tertentu. Di daerah sekitar dusun biasanya hanya memiliki satu industri rumah tangga, hal ini terkait dengan bahan untuk membuatnya terbatas di desa tersebut. Orang-orang desa di Vietnam menjaga agar keahlihannya dalarn bidang tertentu tidak ditiru oleh orang dan dusun lain. Caranya dengan melarang wanita kawin dengan orang lain dari luar desanya dan tidak mau mengajarkan kepandaiannya kepada orang lain.
Keahlihan dalam bidang industri ini sangat dihargai oleh pemerintah kerajaan. Para pekerja tidak dipungut pajak seperti petani lain atau boleh dikata mereka dibebaskan dari pekerjaan musiman tertentu. Hasil pekerjaan yang diperoleh harus dijual kepada istana dengan harga yang sudah ditentukan atau malah diserahkan tanpa imbalan uang. Adanya pemerasan tenaga seperti itu menjadi salah satu sebab tidak berkembangnya industri di wilayah Asia Tengara.





DAFTAR PUSTAKA

Danar Widiyanta., “Diklat Memahami Sejarah Asia Tenggara Kuno”. Yogyakarta. 2002.

Reid, Antony., “Asia Tenggara dalam kurun niaga 1450-1680”. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia. 1992.

Lim Teck Ghee & Alberto G. Gomes., “Suku Asli dan Pembangunan di Asia Tenggara”. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia. 1993.


[1] Antony Reid, Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680, Jakarta : Obor 1992, Hal 27.
[2] Danar Widiyanta., “Diklat Memahami Sejarah Asia Tenggara Kuno”. Yogyakarta 2002

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar