Klik Judul 1X

Selasa, 26 Juli 2011

PERKEMBANGAN KEBUDAYAAN DAN PERADABAN KUNO PERSIA

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sejarah Persia telah dimulai dari 5000 tahun yang lalu. Persia berada pada persilangan yang strategis di daerah Timur Tengah, Asia Barat Daya. Bukti keberadaan manusia di masa lampau pada periode Palaeolitikum Awal di pegunungan Persia telah ditemukan di Lembah Kerman Shah. Dan seiring dengan berjalannya sejarah panjang ini Persia telah mengalami berbagai invasi dan dijajah oleh negara asing. Beberapa referensi tentang keadaan sejarah Persia dengan demikian tidak bisa dihapuskan untuk mendapatkan sebuah pemahaman yang sesuai terhadap perkembangan yang terjadi selanjutnya. Peradaban awal utama yang terjadi pada daerah yang sekarang menjadi negara Iran, adalah peradaban kaum Elarnit, yang telah bermukim di daerah Barat Daya Iran sejak tahun 3000 S.M. Pada tahun 1500 S.M. suku Arya mulai bermigrasi ke Iran dari Sungai Volga utara Laut Kaspia dan dari Asia Tengah. Akhirnya dua suku utama dari bangsa Arya, suku Persia dan suku Medes, bermukim di Iran. Satu kelompok bermukim di daerah Barat Laut dan mendirikan kerajaan Media. Kelompok yang lain hidup di Iran Selatan, daerah yang kemudian oleh orang Yunani disebut sebagai Persis yang menjadi asal kata nama Persia. Bagaimanapun juga, baik suku bangsa Medes maupun suku bangsa Persia menyebut tanah air mereka yang baru sebagai Iran, yang berarti "tanah bangsa Arya".





B. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
a. Menjadi bahan untuk melatih dan meningkatkan daya pikir dalam penulisan karya ilmiah.
2. Tujuan Khusus
a. Memberikan gambaran tentang perkembangan kehidupan zaman kerajaan Persia.
b. Mengkaji kemunculan dan perkembangan agama Kristen dan Yahudi.

C. Manfaat Penulisan
1. Bagi Penulis
a. Sebagai cara mengukur kemampuan penulis untuk meneliti dan menganalisa peristiwa yang terjadi.
b. Memberikan gambaran tentang kondisi/permasalahan pada zaman kerajaan Persia dan perkembangan Yahudi dan Kristen.
2. Bagi Pembaca
a. Menambah pengetahuan pembaca tentang kemampuan menganalisa, sehingga dapat menilai suatu peristiwa.
b. Memberikan gambaran tentang kondisi/permasalahan pada zaman kerajaan Persia dan perkembangan Yahudi dan Kristen.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Kemunculan Kerajaan Persia
a. Kebudayaan dan Peradaban Acheminiyah
Pada tahun 600 S.M. suku Medes telah menjadi penguasa Persia. Sekitar tahun 550 S.M. bangsa Persia yang dipimpin oleh Cyrus II menggulingkan kerajaan Medes dan membentuk dinasti mereka sendiri (Kerajaan Achaemenid/Acheminiyah). Cyrus memulai kariernya selaku pejabat rendahan di bagian barat daya Iran, dia menghalau dan memenangkan pertempuran tiga kerajaan besar (Medes, Lydian, dan Babilon), dan menyatukan hampir seluruh daerah Timur Tengah lama menjadi satu negara yang membentang mulai India hingga Laut Tengah .
Cyrus (atau Kurush nama Persinya) dilahirkan sekitar tahun 590 SM di propinsi Persis (kini Fars), di barat daya Iran. Daerah ini saat itu merupakan propinsi Kerajaan Medes. Cyrus berasal dari keturunan penguasa lokal yang merupakan bawahan Raja Medes.
Tradisi yang timbul belakangan bikin dongeng menarik menyangkut diri Cyrus ini, seakan-akan mengingatkan orang akan dongeng Yunani mengenai Raja Oedipus. Menurut dongeng ini, Cyrus adalah cucu Astyages Raja Medes. Sebelum Cyrus lahir, Astyages mimpi bahwa cucunya suatu saat akan menghalaunya dari tahta. Raja keluarkan perintah supaya semua bayi yang baru lahir dibunuh habis. Tetapi, pejabat yang dipercaya melakukan pembunuhan itu tak sampai hati melakukan pembunuhan durjana itu, tetapi diteruskannya perintah itu kepada penggembala dan istrinya supaya melaksanakannya. Namun mereka ini pun tak sampai hati. Mereka bukannya membunuh bayi lelaki melainkan memeliharanya sebagai anak sendiri. Akhirnya, ketika sang bocah tumbuh dewasa, memang betul-betul dia menumbangkan raja dari tahtanya .
Bangsa Medes dan Persia berdekatan satu sama lain, baik disebabkan asal-usul maupun persamaan bahasa. Karena Cyrus tetap meneruskan sebagian besar hukum-hukum Medes dan sebagian besar prosedur administrasi pemerintahan, kemenangannya atas Medes hanyalah merupakan sekedar perubahan dinasti dan bukannya suatu penaklukan oleh bangsa asing.
Tetapi, Cyrus segera menampakkan keinginannya melakukan penaklukan ke luar. Sasaran pertamanya adalah Kerajaan Lydian di Asia Kecil, dikuasai oleh Raja Croesus, seorang yang kekayaannya seperti dongeng. Besi Cyrus tak ada artinya jika dibandingkan emasnya Croesus. Menjelang tahun 546 SM Cyrus menaklukkan Kerajaan Lydian dan menjebloskan Croesus ke dalam bui .
Cyrus kemudian mengalihkan perhatiannya ke jurusan timur, dan dalam serentetan pertempuran, dia taklukkan semua bagian timur Iran dan dimasukkannya ke dalam wilayah kekuasaan kerajaannya. Pada tahun 540 SM, Kekaisaran Persia membentang ke timur sejauh Sungai Indus dan Jaxartes (kini Syr Darya di Asia Tengah).
Dengan terlindungnya bagian belakang. Cyrus dapat memusatkan perhatian pada yang paling berharga dari segalanya. Kekaisaran Babylon yang makmur loh jinawi, terletak di pusat Mesopotamia tetapi dapat mengawasi segenap daerah "bulan sabit subur" (Fertile Crescent) Timur Tengah. Tidak seperti Cyrus, penguasa Babylon Nabonidus tidaklah populer di kalangan rakyat. Tatkala tentara Cyrus maju bergerak, pasukan Babylon bertekuk di lutut Cyrus tanpa suatu perlawanan. Karena Kekaisaran Babylon meliputi juga Suriah dan Palestina, kedua daerah ini pun dimasukkan ke dalam wilayah kekuasaan Cyrus.
Cyrus menghabiskan waktu beberapa tahun untuk mengkonsolidasi penguasaannya dan mengorganisir kembali kekaisaran yang begitu besar yang telah direbutnya. Kemudian dia pimpin Angkatan Bersenjata menuju timur laut menaklukkan Massagetae, suku nomad yang hidup di Asia Tengah sebelah timur laut Kaspia. Orang-orang Persia memperoleh kemenangan pada saat-saat kontak senjata pertama. Tetapi pada pertempuran kedua, pertempuran tahun 529 SM, mereka terkalahkan dan Cyrus terbunuh.
Cyrus digantikan oleh puteranya Cambyses II. Cambyses mengalahkan Massagate dalam pertempuran berikutnya, menemukan mayat ayahnya dan menguburnya kembali di Pasargadae, ibukota Persia kuno. Kemudian Cambyses mengirim pasukan untuk penyerbuan Mesir, sehingga dengan demikian dia menyatukan segenap daerah Timur Tengah lama dalam satu kekaisaran.
Dan dalam masa pemerintahan Darius, jalur pelayaran mulai diperkenalkan, bersamaan dengan dimulainya sistem mata uang logam emas dan perak. Jalan kerajaan dari Sardis hingga Susa dan sistem pos difungsikan dengan tingkat efisiensi yang menakjubkan. Pada masa jayanya di tahun 500 S.M. daerah kekuasaan kerajaan ini membentang ke arah barat hingga ke wilayah yang sekarang disebut Libya, ke arah timur hingga yang sekarang disebut sebagai Pakistan, dari Teluk Oman di Selatan hingga Laut Aral di Utara. Lembah Indus juga merupakan bagian dari Kerajaan Achaemenid. Seni budaya Achaemenid memberikan pengaruh pada India, dan bahkan kemudian dinasti Maurya di India dan pemimpinnya Asoka sangat terimbas dengan pengaruh Achaemenid. Begitupun juga yang terjadi di Asia Kecil dan di Armenia, pengaruh Iran sangat kuat bertahan jauh setelah keruntuhan dinasti Achaemenid. Ada beberapa kata yang diserap oleh bahasa Armenia dari kata-kata bahasa Iran sehinggga selama beberapa lama para peneliti mengira bahwa bahasa Armenia merupakan bagian dari bahasa Iran dan bukannya merupakan unit yang terpisah dari keluarga bahasa Indo-Eropa. Pada kira-kira tahun 513 S.M. bangsa Persia melakukan invasi ke tempat yang sekarang merupakan Rusia Selatan dan Eropa Tenggara dan hampir menguasai wilayah ini juga. Darius sekali lagi mengirim bala Tentara Agung-nya ke Yunani di tahun 490 S.M., tetapi dikalahkan oleh pasukan bangsa Athena di Marathon. Sekali lagi putra Darius, Xerxes, menginvasi Yunani di tahun 480 S.M. Bangsa Persia mengalahkan tentara Sparta setelah melalui pertempuran sengit di Thermopylae. Akan tetapi mereka mengalami kekalahan yang menyesakkan di Salamis dan didepak dari Eropa tahun 479 S. M .
Setelah mengalami kekalahan di Yunani, Imperium Achaemenid kian melemah dan mengalami kemerosotan. Pada tahun 331 S.M. Alexander dari Macedonia menaklukkan kerajaan tersebut, setelah mengalahkan tentara Persia yang besar dalam pertempuran di Arbela. Kemenangan ini mengakhiri Imperium Achaemenid dan Persia pun menjadi bagian dari kekaisaran Alexander.


b. Kebudayaan dan Peradaban Parthian
Penaklukan oleh Alexander sama sekali bukan pertanda tamatnya Kekaisaran Persia. Lebih dari sepuluh tahun setelah kematian Alexander di tahun 323 S.M., salah seorang panglima bernama Seleucus mendirikan sebuah dinasti yang memerintah Persia dari tahun 155 S.M. dia berhasil menguasai Suriah, Mesopotamia, dan Iran, dengan demikian dia mendirikan Kekaisaran Seleucid.
Tetapi, kekuasaan asing atas Iran tidaklah berlangsung lama. Di pertengahan abad ke-2 SM pecah pemberontakan melawan kekuasaan Seleucid, di bawah pimpinan Arsaves I yang menganggap diri keturunan Achaemenid (dinasti Cyrus). Setelah itu, bangsa Parthian memenangkan kendali atas Persia. Pemerintahan mereka bertahan hingga tahun 224 M. Bangsa Parthian membangun kerajaan yang besar melewati Asia Kecil Timur dan Asia Barat Daya. Selama 200 tahun terakhir pemerintahan mereka, bangsa Parthian harus berperang dengan bangsa Romawi di Barat dan bangsa. Kushan di wilayah yang sekarang menjadi wilayah Afganistan. Sekitar tahun 224 M seorang Persia bernama Ardhasir menggulingkan kekuasaan bangsa Parthian dan mengambil alih kerajaan

c. Kebudayaan dan Peradaban Sasanian
Setelah lebih dari 550 tahun di bawah kekuasaan bangsa asing, orang Persia kembali memerintah Persia, dan dinasti Sassanid (Sasanian) yang juga mengaku keturunan dari Archaeminid, ini bertahan selama lebih dari 400 tahun. Dalam kurun wakitu itu, seni budaya Iran tumbuh subur, jalan-jalan, irigasi dan bangunan berkembang pesat, akan tapi perang antara bangsa Persia dan bangsa Romawi terus berlanjut mewarnai sebagian besar masa pemerintahan rezim Sassanid.
Peradaban Sassanid mencapai kejayaannya di pertengahan abad ke 6 M . Persia memenangkan beberapa peperangan dengan Romawi, dan menguasai kembali wilayah yang pernah menjadi bagian dari Kerajaan Achaemenid. Tentara Persia sebenarnya telah menguasai hingga perbatasan Konstantinopel, yang pada saat itu merupakan ibukota dari kerajaan Byzantium (Kerajaan Romawi Timur). Akan tetapi mereka di sana dikalahkan dan terpaksa mengundurkan diri dari sernua wilayah yang telah mereka taklukkan. Kerajaan Sassanid jauh lebih tersentralisir dari para pendahulunya. Zoroastrianisme menjadi agama negara . Akan tetapi selama masa rezim Shahpur 1, seorang pemimpin agama dan pergerakan baru muncul ketika Mavi menyatakan dirinya sebagai rasul Tuhan Yesus yang terakhir dan terbesar. Pada akhirnya dia dihukum mati. Agamanya kemudian disebut Manicliaeisme. Di bawah dinasti Sassanid, eksploitasi dan penindasan yang ekstrim terhadap rakyat mencapai puncaknya. Perbudakan telah melampaui batas dan memasuki masa krisis. Migrasi besar-besaran kaum tani miskin telah merambah kota-kota sebagai akibat tirani kebangsawanan feodal yang tak tertahankan. Namun, di kota-kota-pun mereka masih diperlakukan sebagai budak. Penindasan yang terakumulasi itu tiba-tiba meledak dalam bentuk gerakan revolusioner di bawah pimpinan Mazdak . Mazdak adalah seorang revolusioner besar jaman itu dan gerakannya, seperti halnya gerakan Kristen di masa awal yang berkembang di bawah kondisi serupa, memiliki kandungan komunistik. Ajarannya menuntut distribusi kesejahteraan yang adil, melarang memiliki istri lebih dari satu, dan memperjuangkan eliminasi kebangsawanan dan feodalisme. Gagasan-gagasan revolusioner Mazdak mengakar kuat di kalangan budak dan kaum tani miskin. Gerakannya bertahan selama 30 tahun dari tahun 494 M hingga 524 M. Pada masa pemerintahan Raja Nosherwan, gerakan Mazdak secara brutal ditindas dan tiga puluh ribu pengikutnya dibinasakan, akan tetapi pada dasamya Nosherwan telah dipaksa untuk melaksanakan reformasi sosial dan agraris. Gerakan revolusioner Mazdak adalah salah satu perjuangan kelas yang paling inspiratif dalam sejarah Iran. Tradisi ini telah meninggalkan jejak mendalam pada perjalanan panjang gerakan revolusioner Iran. Di pertengahan abad ke-7 M, terjadilah sebuah peristiwa yang merubah nasib Iran. Tentara Arab menaklukkan negara tersebut dan kebanyakan rakyat Iran kemudian menganut agama Islam. Alasan bagi keberhasilan pesat agama baru itu tidak sulit untuk dicari. Di samping ke semua pencapaian yang demikian menakjubkan, Kerajaan Sassanid dicirikan dengan adanya penindasan yang ektrim terhadap rakyat yang telah terinjak. Meskipun begitu, bagi dunia bangsa Iran lahirnya agarna Islam tidak berarti pembebasan, akan tetapi merupakan kekalahan dan penjajahan oleh orang asing. Hal itu merubah seluruh rangkaian sejarah Persia. Dengan memperkenalkan Islam, bangsa Arab mengganti kepercayaan kuno Persia, Zoroastrianisme, dan sejak saat itu hingga hari ini, orang Persia menjadi Muslim.






B. Agama Yahudi & Kristen
a. Kemunculan dan Perkembangan Agama Yahudi & Kristen
Asal-usul orang-orang Yahudi dimulai dengan pemanggilan Abraham . Abraham adalah orang yang percaya pada satu Tuhan, Tuhan yang bertanggung jawab pada penciptaan, yang memimpin orang-orang Israel dalam perjalanan mereka yang mengagumkan. Dengan iman, Abraham menerima tidak hanya keberadaan Tuhan yang Esa tetapi juga Tuhan yang berjanji bahwa dia dan istrinya akan mempunyai keturunan sebanyak butir-butir pasir di pantai. Generasi Bapak Pendiri Israel (Abraham, Iskak, dan Yakub) menyusun bab-bab pertama dalam kisah yang oleh orang-orang Kristen dianggap mempunyai arah baru dalam diri Yesus dari Nazareth. Pada akhir Kitab Kejadian kelompok orang yang akan menjadi bangsa Yahudi sedang menetap di Mesir. Kitab Keluaran dalam Injil menceritakan naiknya Musa menjadi pemimpin orang-orang Yahudi yang tinggal di Mesir dan pembebasan mereka secara ajaib dari perbudakan. Di padang pasir tempat mereka melarikan diri, orang-orang menerima Hukum Perjanjian yang untuk seterusnya akan menentukan hubungan mereka dengan Tuhan. Musa tidak hanya membebaskan rakyatnya dari perbudakan tetapi juga menjadi juru bicara Tuhan untuk memberi tahu mereka apa yang diinginkan oleh Tuhan.
Lima kitab pertama Injil orang Yahudi, dikenal sebagai Taurat (Hukum, Panduan, Ajaran Suci) atau Pantateuch, adalah yang paling suci, paling mempunyai otoritas dalam Kitab Suci orang Yahudi. Karena Abraham dan Musa adalah tokoh kunci dalam konstitusi orang-orang Yahudi, tradisi tentang mereka dan juga hukum yang harus dipatuhi agar dapat menyenangkan Tuhan, mereka menduduki tempat utama dalam imajinasi orang-orang Yahudi pada masa Yesus. Juga yang sangat penting adalah tulisan dan visi para Nabi besar setelah Musa.
Di bawah pimpinan Daud, Israel berubah dari konfederasi suku-suku bangsa yang bebas menjadi sebuah kerajaan yang bersatu. Di bawah pimpinan putra Daud, Salomo (Sulaiman), Israel mengalami masa-masa keemasan singkat dalam segala bidang . Tulisan-tulisan sejarah yang seringkali dinamakan kitab “Para Nabi Awal” melanjutkan tema Kitab Ulangan di mana sejarah orang Yahudi merupakan fungsi kesetiaan dan ketidaksetiaan terhadap peranjian. Pembagian kerajaan menjadi kerajaan utara dan selatan pada tahun 922 Sebelum Masehi menyebabkan jatuhnya kerajaan, ditandai dengan jatuhnya kerajaan utara ketangan bangsa Asiria pada tahun 721 Sebelurn Masehi, dan jatuhnya kerajaan bagian selatan ke tangan bangsa Babionia pada tahun 597 Sebelum Masehi, semuanya menurut para ahli sejarah kitab suci, merupakan bencana yang ditunjukan pada ketidaksetiaan bangsa Israel. Kebanyakan raja-rajanya jahat, dan para tokoh ulama yang membela hak-hak Tuhan sampai dengan pengungsian ke Babilona adalah figur-figur karismatik yang dikenal sebagai para nabi. Israel berada dalam periode merosotnya pengaruh kebudayaan dan militer, menjadi pemain minor pada peta kekuatan Timur Dekat kuno.
Yesus mewarisi sejarah religius ini, di samping juga dampak gerakan yang muncul satu abad setelah kelahirannya. Kaum Farisi sebuah kelompok yang tertarik pada usaha menghidupkan kembali kesedaran kepada Kitab Taurat, baik terhadap kata-katanya maupun terhadap jiwanya, sangat berpengaruh pada masa itu dan Yesus tampaknya harus berbagi banyak dengan program mereka. Orang-orang Saduki, kelompok pendeta yang sangat peduli terhadap pembatasan Hukum tarhadap lima buku yang pertama dan mempertahankan hubungan yang baik dengan Roma, kekuatan penyembah berhala yang memerintah Palestina, ternyata kurang berpengaruh pada Yesus. Kelompok separatis orang Yahudi (Essene) ingin mempersiapkan orang-orang untuk memperoleh kedaulatan dengan membuat mereka cukup murni untuk menerima kebaikan dan menjadi bagian dari Tuhan sendiri, mungkin membentuk pikiran Yohanes Sang Pembaptis, yang dengan jelas mempengaruhi Yesus pada awal-awal karier publiknya. Kelompok Zealot, sebuah kolompok aktivis politik yang menggunakan taktik teroris untuk menciptakan ketidaktenangan bagi para pemimpin kerajaan Romawi dan para sekutunva, tampaknya mempunyai pengaruh kecil terhadap Yesus.

b. Kristen Setelah Yesus
Menurut para ahli Perjanjian Baru datang setelah Yesus. mereka berpendapat bahwa semua tulisan yang di masukkan ke dalam Perjanjian Baru ditulis kurang lebih sekitar tahun 100 Setelah Masehi (65 tahun sete1ah kematian Yesus). Rasul Paulus, yang tidak merasakan secara pribadi sejarah Yesus, merasa bahwa dia telah berjumpa dengan Kristus yang dibangkitkan, yang memberikan adanya apa yang kemudian menjadi misi untuk mengkhotbahkan injil pada orang non Yahudi.
Tulisan Rasul Paulus dalam Perjanjian Baru mewakifi fase pertama dalam sebuah transisi dalam Kristen Yahudi menuju kekepedulian Kristen untuk menafsirkan kembali Yesus bagi para orang-orang Kafir Pada era Perjanjian Baru, tampaknya jelas bahwa masa depan Gereja terletak pada berubahnya orang-orang Kafir menjadi pemeluk agama Kristen, karena Israel sebagai sebuah kesatuan menolak klaim yang mengatakan bahwa Yesus adalah Mesias .
Abad kedua atau ketiga eksistensi orang-orang Kristen memerlukan Gereja guna mengkonsolidasi ajarannya dan membentuk kedisiplinan yang diperlukan untuk mempertahankan ketertiban. Ketertiban mencakup doktrin, praktik liturgi, dan moralitas. Para pernimpin dalam usaha-usaha Gereja untuk mengendalikan doktrir., liturgi, dan moralitasnya adalah uskup yang mengepalai gereja lokal. Tugas eksternal besar mereka termasuk mempertahankan klaim Kristen terhadap otang-orang Yahudi dan orang-orang Kafir yang suka mencela, dan meyakinkan otoritas sekuler bahwa orang-orang Kristen bukanlah orang yang durhaka, tidak merupakan ancaman terhadap penguasa di Roma. Jatuhnya Kuil di Yerusalem pada tahun 70 Setelah Masehi tampaknya bagi banyak orang Kristen merupakan simbol penolakan Tuhan terhadap Israel karena penolakannya terhadap Kristus, sementara mayoritas usaha apolegetik awal mencoba untuk meyakinkan orang-orang Kafir yang berpendidikan bahwa Kristen merupaka jalan penyelamatan dan kebijaksanaan yang memang sedang mereka cari.
Dengan pemerintahan Kaisar Konstantin pada awal abad ke 4 orang-orang Kristen ke luar dari kecurigaan kekaisaran yang memblok usaha mereka untuk tumbuh. Konstantin membuat jalan bagi Kristen untuk menjadi agama yang paling diminati dalam kekaisararnya , dan setelah itu pembasmian terhadap gereja yang banyak memakan korban jiwa, turun drastis. Para martir yang mati dan menjadi saksi mata terhadap iman selama pembantaian seperti ini membentuk salah satu paradigma paling penting bagi kesucian orang-orang Kristen. Sesungguhnva, pada abad ke 4 bayak spiritualitas orang-orang Kristen mengikuti motif sekaratnyadunia, baik untuk iman dalam kematian sesungguhnya atau melalui praktik membiara. Ketika Gereja memperoleh simpati di Romawi, praktik membiara memperoleh momentumnya.
Sejak abad ke-3 sejumlah orang penting Kristen meninggalkan dunia, dan berpendapat bahwa kesejahteraan Gereja lebih berbahaya ketimbang pembamtaian yang pernah dilakukan dulu. Apa yang dikenal sebagai gerakan monastik mengorganisasikan keinginan untuk meninggalkan dunia ini. Pada pertengahan abad keempat tidak hanya mereka yang hidup membiara yang memilih hidup di tempat-tempat sepi untuk mencari Tuhan tetapi juga memilih berkumpul dalam komunitas pria dan wanita yang semakin meningkat, terikat pada orang yang lebih tua yang dipuja untuk mengarahkan perkembangan spiritual mereka.
Zaman kebesaran Dewan Gereja dimulai pada pertemuan para uskup di Nicaea pada tahun 325 untuk mendiskusikan pemahaman ortodok tentang sifat alami Yesus. Arianisme, pandangan bahwa Yesus hanyalah manusia yang luar biasa dan bukannya Putra Allah yang lahir , merupakan klenik besar pertama yang ditolak oleh para uskup. Sejak masa-masa awal (di dalam era Peijanjian Baru sendiri) ada dokirin yang kontroversial, tetapi dari masa Nicaea kontrovesi seperti ini memperoleh respon yang lebih formal. Orang-orang yang tidak sepakat cenderung terus mendorong pandangan mereka (kelompok Arya tidak begitu berhasil selama berabad-abad setelah Nicaea), dan seluruh sejarah ortodoksi dan paham klenik dirumitkan oleh faktor-faktor politik, yang sebagian datang dari luar Gereja serdiri (sebagai contohnya, keinginan para Kaisar).
Jatuhnya Roma pada tahun 430 adalah kejutan besar bagi Semua anggota kekaisaran. Dan saat itu nasib Kristen Barat terletak pada beragam usaba untuk mengakomodasi kebudayaan suku-suku penyembah berbala di Eropa. Kristen Timur lebth baik mempertahankan kedaulatan mereka (sampai dengan munculnya lslampada abad ke-7), tetapi Timur dan Barat tumbuh terpisah. Alasan utamanya adalah rnasalah bahasa : Timur berbicara bahasa Yunani sedangkan Barat berbahasa Latin. Pada tahun 1034 dua bagian Kristen ini menjadi antagonistik dan masing-masing mendeklarasikan bahwa yang lain adalah kelompok yang memisahkan diri.
Bizantium, sering dinamakan sebagai kebudayaan Kristen Timur, dicirikan oleh simbiosis apa yang sekarang kita namakan “gereja” dan “negara.” Kaisar mengklaim kendali terhadap urusan gereja, atas nama status Kristennya sebagai pemimpin yang ditunjuk oleh Tuhan. Yurisdiksi Administrasi besar pada awal berdirinya Gereja adalah Roma, Konstantinopel, Yerusalem, Antioka, dan Alexandria. Jelas sekali, empat di antaranya berada di Timur. Akan tetapi, Roma mengklaim status khusus (sebagai pusat Kekaisaran pada Zaman Yesus dan para rasul, dan sebagai gereja yang didirikan oleb Petrus dan Paulus). Kepausan (pemerintahan oleh para uskup di Roma adalah kekuatan paling efektif di Eropa selama periode setelah penyerbuan bangsa barbar dan dimulai dengan pemerintahan Paus Gregory I (590-604) di mana apa yang kita namakan abad pertengahan mulai memperoleh bentuknya.
Di Barat kejayaan periode abad pertengahan mencakup perkembangan teologi yang dikenal sebagai skolastisme dan munculnya sejumlah orde keagamaan yang penting. Para Paus sangat berhasil mempertahankan kebebasan Gereja dari pengaruh penguasa sekuler, dan para misionanis melengkapi Kristenisasi terhadap para pemuja berha1a. Era dewan menghubungkan para ahli teologi tenkenal yang kemudian dikenal sebagai “Bapa Gereja.” Yang paling besar di antara mereka (Augustine di Barat. Origen dan Gregory Nazianzen di Timur) mengembangkan artikulasi penuh pertama tentang iman Kristen, seringkali dengan menulis komentar yang sangat panjang tentang Kitab Suci. Kaum Skolastik memperkenalkan logika baru yang tersedia melalui terjemahan teks-teks klasik Yunani dalam bahasa Arab (khususnya buah pikiran Anistoteles). Ketika para Bapak doktrinal, dan penulisan bertemakan mistik, kaum skolastik menginginkan hal yang lebih kokoh, mengaplikasikan filsafat sehingga iman dapat memperoleh pemahan yang lebih baik. Sesungguhnya, dengan mengembangkan gagasan Augustine, kelompok Skolastik akhirnya mendefinisikan teologi sebagai iman yang mencari pemahaman.
Setelah era abad pertengahan, sebuah akhir yang menyaksikan banyak korupsi kepausan dan banyak ketidak teraturan di antara para biarawan gereja, datanglah abad-abad yang dipenuhi dengan kebingungan besar. Wabah yang menyebar Eropa, pada abad keempat belas dan kelima belas, memunculkan depresi yang hebat, sedangkan korupsi dalam gereja menyebabkan munculnya keinginan untuk mengadakan reformasi. Munculnya penerus yang penting Seperti John Wycliffe di Inggris dan John Hus di Bohemia, Desiderius Erasmus, Martin Luthet, Ulrich Zwingli dan para reformis lainnya membuat abad ke-16 menjadi periode yang penuh dengan kreativitas dan pergolakan. Pada akhirnya apa yang kemudian dikenal sebagai Reformasi Protestan memecah kelompok Kristen Barat. Pada pertengahan abad keenam belas, ketika Katolik Roma mengelompok kembali ke dalam Dewan Trent, garis peperangan yang telah ditarik mengakibatkan perang keagaman yang luar biasa dan antogorisme antara Protestan dan Katolik terus berlanjut sampai dengan abad kedua puluh.

BAB III
KESIMPULAN

A. Kesimpulan
Pada tahun 600 S.M. suku Medes telah menjadi penguasa Persia. Sekitar tahun 550 S.M. bangsa Persia yang dipimpin oleh Cyrus II menggulingkan kerajaan Medes dan membentuk dinasti mereka sendiri (Kerajaan Achaemenid/Acheminiyah). Penaklukan Persia oleh Alexander Agung sama sekali bukan pertanda tamatnya Kekaisaran Persia. Lebih dari sepuluh tahun setelah kematian Alexander di tahun 323 S.M., salah seorang panglima bernama Seleucus mendirikan sebuah dinasti yang memerintah Persia dari tahun 155 S.M. dia berhasil menguasai Suriah, Mesopotamia, dan Iran, dengan demikian dia mendirikan Kekaisaran Seleucid. Setelah itu, bangsa Parthian memenangkan kendali atas Persia. Pemerintahan mereka bertahan hingga tahun 224 M. Bangsa Parthian membangun kerajaan yang besar melewati Asia Kecil Timur dan Asia Barat Daya. Setelah jatuhnya bangsa Parthian, dan lebih dari 550 tahun di bawah kekuasaan bangsa asing, orang Persia kembali memerintah Persia, dan dinasti Sassanid (Sasanian) yang juga mengaku keturunan dari Archaeminid, ini bertahan selama lebih dari 400 tahun. Dalam kurun wakitu itu, seni budaya Iran tumbuh subur, jalan-jalan, irigasi dan bangunan berkembang pesat, akan tapi perang antara bangsa Persia dan bangsa Romawi terus berlanjut mewarnai sebagian besar masa pemerintahan rezim Sassanid.
Asal-usul orang-orang Yahudi dimulai dengan pemanggilan Abraham. Lima kitab pertama Injil orang Yahudi, dikenal sebagai Taurat (Hukum, Panduan, Ajaran Suci) atau Pantateuch, adalah yang paling suci. Di bawah pimpinan Daud, Israel berubah dari konfederasi suku-suku bangsa yang bebas menjadi sebuah kerajaan yang bersatu. Di bawah pimpinan putra Daud, Salomo (Sulaiman), Israel mengalami masa-masa keemasan singkat dalam segala bidang.


DAFTAR PUSTAKA

Toynbee, Arnold. Sejarah Umat Manusia. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. 2004.
_____________. Problem Peradaban : Penelusuran Jejak Kebudayaan Arab, Islam, dan Timur. Jogjakarta: Belukar. 2004.
Marshall G.S. Hodgson. Iman dan Sejarah dalam Peradaban Dunia. Terj. Dr. Mulyadhi Kartanegara. Jakarta: Paramadina. 1999.
Marshall G.S. Hodgson. Peradaban Khalifah Agung. Terj. Dr. Mulyadhi Kartanegara. Jakarta : Paramadina. 2002.
Heid, Colbert C. Middle East Patterns : Places, Peoples, and Politics. Sanfransisco : Westvie. 1989.
Roaf, Michael. Culture Atlas of Mesopotamia and The Ancient Near East. New York : Oxfrod Ltd. 1990.
Strange. G. The land of Eastern Caliphate : Mesopotamia, Persia, and Central Asia from the Moslem conquest to the time of timur. London : Frank Cass. 1966
Meulen, W.J.v.d. Kebudayaan-kebudayaan kuno di sekitar Laut Tengah I. Yogyakarta : IKIP Sanata Dharma. 1978.
Meulen, W.J.v.d. Kebudayaan-kebudayaan kuno di sekitar Laut Tengah II. Yogyakarta : IKIP Sanata Dharma. 1978.
Meulen, W.J.v.d. Kebudayaan-kebudayaan kuno di sekitar Laut Tengah III. Yogyakarta : IKIP Sanata Dharma. 1978.
Leeuwen, Arend Th. Van. Agama Kristen dalam sejarah dunia. Terj Frits M. Kirihio. Jakarta : BPK Gunung Mulia. 1987.
Amstrong, Karen. Sejarah Tuhan : Kisah Pencarian Tuhan yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi, Kristen dan Islam selama 4.000 tahun. Bandung : Mizan. 1993.
Heuken, Adolf .S.J. Ensiklopedia Gereja: Jilid V. Jakarta : Yayasan Cipta Loka Caraka. 1995.
Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania. Pencarian Manusia Akan Allah. New York : Watch Tower Bible and Tract Society of New York Inc. 1990.

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar