Klik Judul 1X

Sabtu, 09 Juli 2011

SASTRA MELAYU


Tiap masyarakat, tiap kebudayaan tidak mengenal bahsaa, tetapi dalam salah satu bentuk juga sastra. Sastra Melayu adalah suatu sastra dari bangsa melayu yang bersifat sejarah, sebagai sastra sejarah dia mempunyai fungsi dan arti yang harus kita ketahui pertama - tama adalah bahwa sejarah melayu bukanlah karangan sejarah dalam arti yang dipakai oleh orang abad ke 20 ini hal ini dikemukakan oleh Teuuw. Sejarah melayu tidak memberkan pelukisan sejarah secara tepat dengan angka - angka penanggalan, demikian juga kejadian atau fakta sejarah hanya sedikit sekali diungkap kebenarannya. Menurut Teuuw sejarah melayu tidak banyak manfaatnya, tetapi sejarah atau sastra melayu adalah sumber yang kaya untuk menggali pengetahuan tentang kebudayaan masyarakat Indonesia lama seperti masyarakat melayu. Dari sastra melayu inilah banyak kita pelajari tetang hubungan - hubungan dalam masyarakat, tetang perkembangan pemikiran keadaan ekonomi dan susunan lembaga - lembaga agama[1].
Sastra melayu disebut sebagai Primeval Covenant yang dikemukakan oleh W. P Gerritsen atau sebagai Primeval Convenant menurut Josseline De Jong yaitu kontrak antara penguasa dengan rakyatnya, antara tuan dan hamba. Misalnya antara Sri Tribuana dengan Demang Lebar Daun. Primeval Covenant atau perjanjian awal bagi orang melayu merupakan simbol sumpah setia antara seorang raja melayu yang memerintah dengan rakvat melayu yang diperintah. Peristiwa ini sebenarnya bagi orang melayu mempunyai pengertian dan implikasi politik yang besar dikalangan yang berkuasa dan rakyatnya.
Sastra melayu merupakan suatu bentuk karya sastra yang ditulis berdasarkan mitos, legenda dan dongeng - dongeng yang berkembang di masyarakat mengenai kejadian atau peristiwa tertentu. Seperti yang terdapat dalam unsur - unsur historiografi tradisional yaitu memuat genealogi, asal usul rajakultus, simbolisme, hagiografi, dan sugesti.
Sastra melayu pada umunya terdiri atas dua bagian hal ini dikemukakan oleh Roolvink. Bagian pertama adalah bagian yang bersifat mitos atau dongeng yang menceritakan keadaan dahulu kala, asal mula raja - raja yang memerintah dalam negeri, permulaan berlakunya adat istiadat dan sebagainya. Bagian kedua adalah bagian yang mengadung aspek sejarah, pada zaman penulis sastra itu hidup. 2 Pembagian tersebut dianggap wajar karena pada bagian pertama mengandung konvensi, yang mengantarkan pembaca kepada tradisi sastra yang sudah dikenalnya, sedang bagian kedua mengandung inovasi yaitu mengandung hal - hal yang baru merupakan ciri khas suatu teks yang membedakannya dari teks - teks lain yang sejenis. Konvensi dan inovasi merupakan tolok ukur keberhasilan suatu karya rekaan.
Sastra melayu berkembang dalam lingkungan istana dan ditulis untuk                                                                                                                                                          kepentingan raja, dinasti, dan kerajaan, maka bagian pertamanya memuat cerita -                                                      cerita yang mengaung - agungkan kemegahan raja yang memerintah sampai                                  kepada nenek moyangnya. Dalam bagian kedua yang bersifat historis, cerita                                                 cerita yang menunjukkan martabat raja yang memerintah diringkas                    berhubungan dengan martabat raja itu berarti hidup matinya di penulis, karena itu pembuatan tersebut wajar.
Maksud dan tujuan penulisan karya sastra sejarah adalah :
  1. Untuk mencatat segala peristiwa.
  2. Untuk mencatat segala peraturan raja-raja Melayu.
  3. Untuk mencatat adat istiadat bangsa Melayu.
  4. Agar cerita tersebut sampai kepada anak cucu.
  5. Agar anak cucu dapat belajar dari peristiwa pada masa nenek moyangnya[2].
Sastra melayu merupakan contoh dari bentuk historiografi tradisional yang berada di wilayah Indonesia bagian barat. Sastra melayu berkembang dengan baik serta mempunyai pengaruh yang cukup besar dalam kebudayaan dan adat istiadat masyarakat Indonesia bagian barat terutama Sumatra. Hal ini disebabkan masyarakat Indonesia berasal dan rumpun melayu, sehingga sastra melayu tersebar tidak hanya di Indonesia bagian barat (Sumatra) tetapi juga berkembang di wilayah lain di Indonesia, misalnya hikayat Raja Banjar dan hikayat Kotaringin yang terdapat di Kalimantan merupakan bukti bahwa sastra melayu berkembang sampai di Indonesia bagian Tengah.
Selain itu jika kita menelaah silsilah raja-raja mataram maka kita akan menemukan beberapa tokoh mitologi dari mitologi melayu yang merupakan salah satu unsur pokok sastra melayu yaitu tentang perkawinan dengan bidadari, misalnya Kandiawan dan Nawangwulan[3].
Sumber sejarah adalah bahan - bahan yang dapat digunakan untuk mengumpulkan informasi tentang peristiwa yang terjadi pada masa lalu yang  dialami oleh manusia pada masa itu dan meninggalkan jejak - jejak peninggalan dan bukti - bukti yang menyangkut kehidupan masyarakat[4]. Dalam sumber sejarah ada yang disebut sebagai sumber sejarah titik langsung atau sumber sejarah cerita juga disebut tradisi dari terbagi atas: tradisi yang berwujud rupa, tulisan dan lisan. Tradisi rupa terdiri dari cerita naluri yang diwariskan dituturkan secara turun menurun dalam bentuk sage, mitos, legenda, dan sebagainya. Karena dalam Sastra melayu terdapat unsur - unsur mitos dan legenda maka sastra melayu dapat dijadikan sumber dalam penulisan sejarah. Namun kita tidak bisa begitu saja menggunakan sastra melayu tersebut sebagai sumber sejarah secara utuh karena kita harus melakukan kritik baik intern maupun eksteren terhadap sumber sejarah tersebut. Tidak semua sastra melayu bisa dijadikan sumber sejarah hanya yang mempunyai unsur mitos sedikit saja yang dapat digunakan sebagai sumber sejarah. Dengan cara membandingkan antara fakta - fakta dilapangan dengan mitos - mitos yang terdapat dalam sastra melayu. Sastra melayu dapat dikatakan sebagai sejarah melayu karena tidak ada perbedaan yang jauh antara sastra melayu dan sejarah melayu. Dalam mempelajari sastra melayu secara otomatis kita dapat sekaligus mempelajari sejarah melayu.
Dengan demikian dalam penggunaan sastra melayu sebagai sumber sejarah kita harus cermat dalam melakukan kritik sumber, hal ini disebabkan sastra melayu lebih banyak mengandung unsur mitos dan legenda dari pada fakta - fakta yang menjelaskan mengenai rentetan peristiwa. Dalam sastra melayu juga lebih banyak menjelaskan tentang perjajian antara raja dengan rakyat, tentang silsilah raja - raja dan sangat sedikit sastra melayu yang menjelaskan secara detail dari keseluruhan mengenai fakta suatu kejadian yang terjadi pada masa itu.


[1] Djohan Hanaviah. 1995. Melayu Jawa Citra danBudaya Sejarah Palembang, di Antara Sejarah Melayu dan Babad Tanah Jawi. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada. Hal 54.
[2] Sulastin Sutrisno. 1983. Sastra dan Historigrafi Tradisional, Panel Historigrafi Tradisional. Jakarta : DepDik Bud. Hal 62.
[3] Prof. Dr. Sartono Kartodirjo. Fatsal-fatsal Historiografi Tradisional dalam lembaran sejarah No. 2. Yogyakarta : UGM. Hal 21
[4] Helius Sjamsuddin. 1996. Pengantar Ilmu Sejarah. Jakarta : Depdik Bud. Hal 61.

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar